Kupu-kupu dari Ledokombo

Anak-anak Tanoker menyambut kunjungan SD Rukun Harapan dan merayakan Implek bersama. Dari kepompong mereka bermetamorfosis menjadi kupu-kupu.

PENANGGALAN selalu berwarna merah pada hari Minggu. Sekolah libur. Pagi sedang cerah. Hari yang tepat untuk bermain. Hari yang semacam itu tentu dinantikan anak-anak pada umumnya. Seorang demi seorang anak datang ke Tanoker Minggu pagi, 25 Januari 2012 itu. Mereka terlihat membawa tas. Bagi yang perempuan, rambut telah tersisir rapi dan bedak tipis menyegarkan wajah-wajah mereka.
Baca lebih lanjut

Sketsa-sketsa Perjalanan Agustinus*

(Pengalaman Membaca Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan)

Di kaki gunung Kelud, saya berada akhir Februari lalu. Di sebuah desa bernama Brenggolo, Kabupaten Kediri. Di sana saya menginap di rumah seorang nenek yang tinggal bersama cucunya yang baru berusia 20-an tahun beserta beristri. Di rumah yang luas dengan kamar sebanyak 7 buah dan masih terdapat 2 tambahan kasur di luar, nenek yang telah bungkuk dan pendengarannya mulai terganggu itu lebih sering tinggal seorang diri. Selain terkadang anak-cucunya mampir sebentar di sana.

Baca lebih lanjut

Jalan Para Ilmuwan

Saya tidak meninggalkan mencari ilmu kecuali pada dua malam: malam pernikahan saya dan malam kematian orang tua saya,” Ali ibn Muhammad Abu Al-Wafa Ibn Aqil.

DI APARTEMEN YANG KECIL, di ruangan yang sempit, banyak buku di rak, dan tumpukan di lantai, sebuah musyawarah buku senantiasa siap sedia digelar. Dalam buku Khaled Abou El Fadl Musyawarah Buku Menelusuri Keindahan Islam dari Kitab ke Kitab ini kita akan disajikan dialog imajiner dengan para suhada dan ulama yang diwakilkan oleh kitab-kitab klasik.

Pada malam-malam yang dingin musyawarah buku senantiasa dimulai dengan permohonan, “Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah pengetahuan kepadaku.’” Permohonan itu selalu terdengar sampai menjelang fajar, saat majelis yang terhormat itu berhenti, atau lebih tepatnya ditunda. Setelahnya, Khaled lantas akan membasuh tangan, kaki, dan mukanya untuk memenuhi panggilan salat subuh. Baca lebih lanjut

Erwan

IA meninggal sesaat sebelum kalender ditanggalkan hari itu.

Malam 6 November 2011 Erwan Rusdianto menghembukan nafas terakhirnya. Usianya relatif muda, ia lahir di akhir tahun 1969, dan ia akhirnya menyerah juga dalam pertempuran yang tak tertangguhkan dengan tujuh penyakit yang menyerang organ dalamnya.

Kondisinya sudah tanpa daya lagi saat saya datang mengunjunginya pada 4 November. Sempat terlintas dalam pikiranku ketika menyaksikannya terbaring lemas di kamar kelas tiga Rumah Sakit Umum dr. Subandi Jember. Jikapun ia masih mempunyai sisa-sisa tenaga itupun ia pergunakan untuk berusaha melepaskan jarum infus yang menganggu di tangannya. “Benarkah kau sudah benar-benar menyerah?” kataku dalam hati.

Saya melihat istrinya, satu tangannya memegang tangan kanannya supaya tidak melepaskan jarum infus sedang satu tangannya lagi digunakannya untuk mengerak-gerakkan kipas angin. Ia banyak bercerita saat itu. Tentang kondisi suaminya yang tiba-tiba drop. “Kemarin mas Erwan tidak begini.” “Dan, sudah seharian itu obat tidak dimasukkan ke tubuhnya,” katanya. Baca lebih lanjut

Kakek di Bawah Bendera Revolusi

TUKIMIN meninggal dunia pagi hari di tanggal 20 Desember 2005 pada usia 80 tahun.

Kalau saja ada sesuatu yang diwariskan kepadaku, salah seorang keturunan generasi ketiganya, adalah sebuah buku Dibawah Bendera Revolusi karangan Ir. Soekarno, proklamator sekaligus presiden pertama Republik Indonesia.

Buku setebal lebih dari 600 halaman itu terlihat angkuh di antara sejumlah buku yang belakangan ini mulai menyesaki kamarku. Warnanya mulai memudar, mungkin lusuh. Di bagian tepi setiap lembarnya tampak menghitam dan tak utuh lagi. Buku itu sempat menjadi santapan rayap. Meski begitu, setiap pembacanya masih bisa membacanya dengan lengkap, sebab tidak ada bagian yang hilang dari buku itu.

Saya menganggap buku Dibawah Bendera Revolusi sebagai warisan paling istimewa dari kakek. Jauh lebih berharga dari sejengkal tanah yang meski dibagi dengan keturunannya yang banyak, dan nyaris saja memicu perseteruan di antara anak keturunannya. Baca lebih lanjut

Berburu

ADA semacam ketertarikan yang kuat juga rasa cemas akan sesuatu yang tidak pasti menimpa kami.

Perasaan itu muncul saat perburuan kedua kami, tiga laki-laki dari generasi ketiga Tukimin, dengan usia masing-masing bertaut agak jauh dan ketiga nama panggilan berakhiran huruh vocal “i” dengan “y”. Saya sendiri, Nody Arizona berusia 23 tahun, kakak saya Rony Awan Papilaya usianya tidak jelas tapi dia kelas 2 SMP saat saya masuk SD sekarang sudah punya anak satu, dan satu lagi Ricky Karunia Ramadhan yang baru saja menyelesaikan UN SD-nya.

Kalau saja ada yang menyamai rasa yang muncul di perburuan itu, maka tanpa perlu berpikir panjang saya akan bilang, “Cuma petualang Jem dan Scout Finch serta Dill dalam kisah To Kill a Mockingbird karya Harper Lee yang bisa menyamainya.”

Ya, saat tiga anak itu mencoba membuktikan kisah tentang keberadaan seorang lelaki kulit hitam yang tidak pernah keluar rumah. Lelaki itu bernama Boo Radley, sebuah kisah keluarga misterius di Maycomb County, yang termasuk dalam wilayah negara bagian Alabama. Boo sendiri dimungkinkan telah meninggal, karena tidak pernah terlihat membeli makanan terlebih setelah ayahnya meninggal. Baca lebih lanjut